Feline scabies is a skin disease caused by infestation of Sarcoptes scabiei or Notoedres cati mites within the stratum corneum. The disease is easy to treat if the diagnose is made properly. In total 95 cases of feline scabies were detected at The Jakarta Animal Hospital for periode of August 1997 up to July 2000, 80% of them was found in the cats which have long hairs, 20% the short hairs cats. The highest case (49,47%) was Persian. By treating them with 200 fJ.glkg body weight of ivermectin (ivomec@) subcutaneusly, 77,89% of affected cats was recovered totally, while the remaining (22,11%) was in the process of recovery. In addition, the younger cats (less than one year old) was recovered better than the older cat (more than one year old). It was also appeared that cats which have long hairs, the recovery degree was better than the short hairs

sumber:

Rodiah, Diah. 2001. Studi Kasus Skabies Pada Kucing Di Rumah Sakit Hewan Jakarta Periode Agustus 1997 – Juli 2000

http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/21340

East Lansing, Michigan, Guru manapun pasti tidak akan suka jika ada muridnya yang tertidur saat mengikuti pelajaran. Namun hasil penelitian terbaru mungkin bisa mengubah sikap para guru, sebab ternyata selama tertidur otak manusia masih tetap bisa belajar.

Sebuah penelitian yang dilakukan Prof Kimberly Fenn dari Michigan State University menunjukkan, tingkat ketenangan manusia saat tertidur berbeda-beda. Ada yang sangat tenang hingga benar-benar terlelap, ada yang masih gelisah karena diam-diam otaknya masih bekerja.

Pada orang-orang yang tidurnya tidak benar-benar tenang, salah satu bagian otak yang masih bekerja adalah sleeping memory atau memori tidur. Bagian ini bekerja di luar kesadaran manusia, sehingga tetap bisa mengolah informasi saat sedang terlelap.

“Ada bukti yang cukup kuat bahwa selama tidur otak masih tetap mengolah informasi tanpa disadari. Kemampuan ini dapat meningkatkan memori secara keseluruhan saat terbangun,” ungkap Prof Fenn seperti dikutip dari Health24, Kamis (29/9/2011).

Kemampuan otak untuk menjalankan memori tidur diklaim merupakan sebuah temuan baru, karena selama ini belum terdefinisikan. Berbagai penelitian menunjukkan ada bagian otak yang tetap aktigf selama tidur, namun hanya menjalankan fungsi pengaturan dan bukan untuk mengolah informasi.

Fenn mengatakan, kemampuan ini juga berbeda-beda pada setiap individu, sehingga tidak semua orang bisa belajar sambil tidur. Belum ada metode untuk mengukur kemampuan ini, bahkan tes kecerdasan yang ada saat ini juga belum dapat mengukur kemampuan memori tidur.

Namun menurut Fenn, adanya kemampuan otak untuk menjalankan memori tidur bisa dijadikan alasan untuk memberikan waktu yang cukup untuk tidur. Artinya jangan anggap tidur hanya buang-buang waktu, sebab selama tidur otak masih akan tetap berpikir dan mengolah informasi.

“Sederhananya, meningkatkan kualitas tidur akan sangat meningkatkan prestasi belajar Anda di kelas,” ungkap Fenn yang baru-baru ini melaporkan temuannya tersebut di Journal of Experimental Psychology.

sumber : detik.com

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

FEM IPB 48
IPB Badge
May 2014
S M T W T F S
« Sep    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Categories
Bookmarks